Print Friendly and PDF

Maaf Newton, ternyata teori pemantulan cahaya bukanlah temuanmu. Ia adalah temuan ilmuwan kami, Ibnu al-Haytsam (354-430 H./965-1040 M.)!

Ibnu al-Haytsam telah menjelaskan teori pemantulan cahaya dengan metode yang dapat dikatakan sangat modern. Beliau berpendapat bahwa cahaya adalah sebuah material, oleh karenanya cahaya itu dapat memantul apabila mengenai benda-benda fisik yang mengkilap/terpoles, sebagaimana bola memantul dari benda yang keras saat menabraknya. Demi membuktikan teori Refleksi Cahaya (Pemantulan Cahaya) ini, beliau melakukan percobaan dengan mengambil beberapa bola yang terbuat dari besi dan menjatuhkan bola-bola tadi dari ketinggian yang berbeda-beda untuk mengetahui kadar pantulannya. 


Ibnu al-Haytsam juga menyebutkan bahwasanya garis lurus dari titik temu antara pancaran cahaya yang jatuh dan pantulannya disebut dengan 'al-'Amud' (tiang). Dan sudut sempit antara cahaya yang jatuh dan al-'Amud (tiang) disebut dengan 'Zawiyah as-Suquth' (sudut jatuh). Lalu sudut sempit antara cahaya pantulan dengan al-'Amud (tiang) disebut dengan 'Zawiyah al-In'ikas' (sudut pantulan.

Ibnu al-Haytsam juga menyatakan bahwa sudut jatuhnya cahaya itu berukuran sama dengan sudut pantulan cahaya. Beliau juga menemukan hubungan antara sudut jatuhnya cahaya dengan sudut bias, serta mengisyaratkan bahwa presentase antara kedua sudut ini tidak tetap konstan.



gambar: Konsep pemantulan cahaya yang masih digunakan hingga hari ini, tentang sudut pantul dan sudut jatuhnya cahaya
Ibnu al-Haytsam juga menemukan bahwa pada teori pemantulan cahaya dan pembiasannya memiliki sifat-sifat mekanik. Dan dengan penemuan ini beliau telah meletakkan hukum Refleksi (pemantulan) yang memiliki sumbangsih besar di bidang Mekanika untuk dunia, dan terlebih khusus untuk Eropa. 

Namun sayangnya, teori yang telah memainkan peran dalam sejarah ini, banyak orang yang menganggap bahwa Isaac Newton-lah (1643-1727 M.) penemunya. Padahal, 700-an tahun sebelum Newton, Ibnu al-Haytsam telah lama menemukannya dan memaparkannya.

Sebagian orang ada pula yang menyatakan bahwa penemu teori ini adalah Willebrod Snelius (1591-1626 M.), Matematikawan Belanda. Namun sayangnya, Ibnu al-Haytsam telah 600 tahun lebih dulu darinya.


Penjelasan Ibnu al-Haytsam mengenai teori pemantulan cahaya dapat Anda baca dalam karya beliau 'Risalah fi adh-Dhau'' (Sebuah Penelitian tentang Cahaya), dan berkaitan dengannya pula karya agung beliau 'Kitab al-Manazhir' (Kitab Optik).


gambar: Manuskrip Kitab Al-Manazhir dan cetakan kuno dari terjemahannya (Optic Ae) dalam Bahasa Latin
Ibnu al-Haytsam dikenal sebagai spesialis mata dan cahaya. Beliau telah berkali-kali melakukan pemeriksaan anatomis terhadap mata manusia dan studi terkait penyimpangan optik. Beliau terbilang juga sebagai orang yang meletakkan fondasi cikal-bakal Kamera modern. Beliau juga meneliti seputar pelangi, ketebalan atmosfer, gerhana matahari, senja, cahaya bulan, refraksi (pembiasan), cermin cekung, cermin cembung, dan lensa pembesar.

Sebenarnya masih banyak lagi penemuan Ibnu al-Haytsam lainnya yang in sya Allah akan kita bahas dalam artikel khusus tentang beliau.

Anda bisa membaca teori-teori Cahaya beliau dalam buku beliau "Risalah fi adh-Dhau'" secara online di link berikut:
link 1
atau:
link 2

Catatan:
Gambar di awal artikel: Salah satu ilustrasi dalam manuskrip Ibnu al-Haytsam dalam bidang ilmu Optik. 

Sumber:
Mawsu'ah Ulama' al-'Arab wa al-Muslimin karya Dr. Muhammad Faris
menoflostglory.wordpress.com
forum.amrkhaled.net
alriyadh.com
ar.wikipedia.org
tips-trikbloger.blogspot.com


Terjemah dan Editing:
Ahmad Ubaidillah*

* Mahasiswa Prodi Takmili Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab di Jakarta cabang Universitas Al-Imam Muhammad bin Saud Riyadh Kerajaan Arab Saudi

0 comments so far,add yours